Senin, 28 Januari 2013

tugas softskill


ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN DALAM KEPUTUSAN MEMBELI GADGET SECARA KREDIT DI LINGKUNGAN MAHASISWA/I UNIVERSITAS GUNADARMA

Dalam Rangka Mengikuti Mata Kuliah Softskill
Hady maulana fajri/13210082/3ea04
Fakultas Ekonomi, Jurusan Manajemen Universitas Gunadarma
EMAIL:
Hadymaulana536@rocketmail.com

Abstrak
Di zaman sekarang ini kata kredit bukan hal yang aneh untuk didengar, karena sudah banyak masyarakat kita yang melakukan transaksi tersebut. Transaksi kredit timbul karena suatu pihak meminjam sejumlah uang atau sesuatu yang dipersamakan dengan itu, di mana pihak peminjam wajib melunasi hutangnya atau rekeningnya tersebut pada waktu yang telah ditentukan. Disamping itu kredit pun timbul sebagai akibat adanya transaksi jual beli, dimana pembayarannya ditangguhkan, baik sebagian maupun seluruhnya.
Konsep model penelitian ini adalah menguji kebenaran dari suatu hipotesis. Apakah dari hasil suatu hipotesis dapat mengetahui pengaruh atau tidaknya yang ditimbulkan dalam penelitian ini. Metode yang digunakan berupa pengujian hipotesis secara simultan maupun secara parsial.


BAB I
PENDAHULUAN
Di era globalisaasi seperti sekarang ini dimana permintaan konsumen terhadap produk itu sangat banyak namun tidak sesuai dengan pendapatan yang mereka terima  khususnya para konsumen yang berpendapatan menengah kebawah sehingga tidak sedikit dari mereka  memilih jalan pintas untuk mendapatkan produk yang mereka inginkan dengan cara kredit, karena menurut mereka itu dengan cara mengkredit produk tersebut mereka bisa mendapatkan hal yang mereka inginkan  dengan mudah tanpa harus menguras dengan kantong mereka melainkan bisa menyicil perbulannya sehingga untuk membayarnya mereka mampu

1.1  Latar Belakang  Masalah
Di era globalisasi seperti saat ini Bagi negara sedang berkembang pembangunan ekonomi jelas dimaksudkan untuk  meningkatkan taraf hidup sehingga setaraf dengan tingkat hidup di negara-negara maju.
Sedangkan masalah perekonomian yang dihadapi oleh banyak negara dimana keadaan perekonomian sering mengalami gejolak yang tidak menentu. Setelah badai krisis, terlalu banyak negara, di Kawasan Asia khususnya Indonesia mengalami keterpurukan di bidang perekonomian yang sangat memprihatinkan dan seperti sekarang ini dimana permintaan konsumen terhadap produk itu sangat banyak namun tidak sesuai dengan pendapatan yang mereka terima  khususnya para konsumen yang berpendapatan menengah kebawah sehingga tidak sedikit dari mereka  memilih jalan pintas untuk mendapatkan produk yang mereka inginkan dengan cara kredit, karena menurut mereka itu dengan cara mengkredit produk tersebut mereka bisa mendapatkan hal yang mereka inginkan  dengan mudah tanpa harus menguras dengan kantong mereka melainkan bisa menyicil perbulannya sehingga  mereka mampu untuk membayarnya .
            Disini tidak hanya konsumen yang berpendapatan menengah kebawah saja yang dapat menikmati produk dengan cara kredit namun yang berpendapatan keatas pun tetap bisa melakukan pembelian secara kredit tetapi dalam ruang lingkup yangberjumlah lebih besar.

1.2  Rumusan Masalah:
1.      Apakah pengaruh yang signifikan pada variable Price (harga) terhadap keputusan pembelian secara kredit?
2.      Apakah pengaruh pengaruh yang signifikan pada variable product terhadap keputusan pembelian secara kredit?
3.      Apakah pengaruh yang signifikan pada kedua variabel baik variabel price dan produk terhadap keputusan pembelian secara kredit?

1.3  Tujuan:
            Untuk mengetahui adakah pengaruh prilaku konsumen terhadap Keputusan pembelian gadget secara kredit di lingkungan mahasiswa/i universitas gunadarma secara simultan dan parsial.

1.4  Keyword
·         Analisis Faktor-Faktor Perilaku Konsumen :
1.      Price
2.      Produk
·         Gadget
·         Keputusan Pembelian Secara Kredit



BAB II
STUDI PUSTAKA
2.1 Pengertian Perilaku
            perilaku dapat dibatasi sebagai keadaan jiwa untuk berpendapat, berfikir, bersikap, dan lain sebagainya yang merupakan refleksi dari berbagai macam aspek, baik fisik maupun non fisik. Perilaku juga diartikan sebagai suatu reaksi psikis seseorang terhadap lingkungannya, reaksi yang dimaksud digolongkan menjadi 2, yakni dalam bentuk pasif (tanpa tindakan nyata atau konkrit), dan dalam bentuk aktif (dengan tindakan konkrit), Sedangkan dalam pengertian umum perilaku adalah segala perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh makhluk hidup (Soekidjo Notoatmodjo, 1987:1). Menurut Ensiklopedi Amerika, perilaku diartikan sebagai suatu aksi dan reaksi organisme terhadap lingkungannya, hal ini berarti bahwa perilaku baru akan terwujud bila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan tanggapan yang disebut rangsangan, dengan demikian maka suatu rangsangan tertentu akan menghasilkan perilaku tertentu pula. Robert Y. Kwick (1972) menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dipelajari

2.2 Pengertian Konsumen
            Konsumsi, dari bahasa Belanda consumptie, ialah suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda, baik berupa barang maupun jasa, untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan secara langsung.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi konsumen:
Konsumen menurut WIRA SUTEJA adalah orang paling penting yang datang ke kantor kita, maupun lewat surat, orang yang memberitahukan kepada kita tentang keinginannya, dan  tugas kita untuk menangani kehendaknya dengan jalan menguntungkan kedua belah pihak, orang yang menciptakan pandangan tentang perusahaan kita, tentang baik atau buruk pelayanan kita, penyampai berita terbaik apabila mereka puas dengan apa yang kita berikan
Konsumen menurut UNDANG - UNDANG PERLINDUNGAN KONSUMEN (UUPK) adalah setiap orang yang memakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun mahluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan
Konsumen yang tercantum di PASAL 1 ANGKA 2 UU NO. 8 TAHUN 1999 adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak diperdagangkan
Konsumen menurut TRI KUNAWANGSIH & ANTO PRACOYO adalah mereka yang memiliki daya beli, yakni berupa pendapatan dan melakukan permintaan terhadap barang dan jasa
Konsumen menurut ARYA MAHEKA ialah pemakai barang / jasa, pengguna akhir dari suatu produk 
Konsumen menurut REDAKSI KAWAN PUSTAKA ialah mahluk hidup yang tidak dapat membuat makanannya sendiri
Konsumen menurut CAMBRIDGE INTERNATIONAL DICTIONARIES adalah seseorang yang membeli suatu barang atau jasa
Konsumen menurut WEBSTER'S 1928 DICTIONARY adalah seseorang yang beberapa kali datang ke tempat yang sama untuk membeli suatu barang atau peralatan
Konsumen menurut DJOKOSANTOSO MOELJONO adalah seseorang yang secara terus menerus dan berulang kali datang ke suatu tempat yang sama, untuk memuaskan keinginannya dengan memiliki suatu produk, atau mendapatkan suatu jasa, dan membayar produk atau jasa tersebut
jadi dari pengertian diatas dapat disimpulkan Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Jika tujuan pembelian produk tersebut untuk dijual kembali (Jawa: kulakan), maka dia disebut pengecer atau distributor. Pada masa sekarang ini bukan suatu rahasia lagi bahwa sebenarnya konsumen adalah raja sebenarnya, oleh karena itu produsen yang memiliki prinsip holistic marketing sudah seharusnya memperhatikan semua yang menjadi hak-hak konsumen
2.3 pengertian Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen menurut David L. Loudon & Albert J. Della Bitta (1984:6) ialah sebagai proses pengambilan keputusan  dan aktivitas individu secara fisik yang dilibatkan dalam  proses mengevaluasi, memperoleh, menggunakan atau dapat mempergunakan  barang-barang dan jasa
Perilaku konsumen menurut James F. Engel, Et.al. (1968:8) ialah Tindakan individu yang secara langsung terlibat  dalam usaha memperoleh dan menggunakan barang-barang jasa ekonomis termasuk proses pengambilan keputusan yang mendahului dan menentukan tindakan-tindakan tersebut.
Perilaku konsumen menurut Gerald Zaltman  Melanie Wallendorf (1979:6) ialah Tindakan, proses, dan hubungan sosial yang dilakukan individu, kelompok, dan organisasi dalam mendapatkan, menggunakan suatu produk atau lainnya sebagai suatu akibat dari pengalamannya dengan produk, pelayanan, dan sumber-sumber lainnya.
Jadi dari definisi diatas dapat disimpulkan perilaku konsumen Merupakan tindakan yang dilakukan oleh individu, kelompok atau organisasi yang berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam mendapatkan, menggunakan barang atau jasa ekonomis yang dapat dipengaruhi lingkungan.

2.4  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prilaku Konsumen
Pembelian konsumen sebenarnya di pengaruhi oleh faktor-faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis. Sedangkan faktor yang paling berpengaruh dan paling luas dan paling dalam adalah faktor budaya.
Menurut Kolter, Philip, Keller, Kevin Lane factor yang mempengaruhi perilaku konsumen sebagai berikut :

·         Faktor budaya
Budaya, sub-budaya, dan kelas sosial sangat penting bagi perilaku pembelian. Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku pembentuk paling dasar. Anak-anak yang sedang tumbuh mendapatkan seperangkat nilai, persepsi, preferensi, dan perilaku dari keluarga dan lembaga-lembaga penting lainnya.
Masing-masing budaya terdiri dari sejumlah sub-budaya yang lebih menampakkan identifikasi dan sosialisasi khusus bagi para anggotanya. Sub-budaya mencakup kebangsaan, suku, agama, ras, kelompok bagi para anggotanya. Ketika sub-budaya menjadi besar dan cukup makmur, perusahaan akan sering merancang program pemasaran yang cermat disana.
·         Faktor sosial
Selain faktor budaya, perilaku konsumen di pengaruhi oleh faktor-faktor sosial, seperti kelompok acuan, keluarga, peran, dan status sosial. Kelompok acuan terdiri dari semua kelompok yang memiliki pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku orang tersebut. Keluarga meruapkan organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat dan para anggota keluarga menjadi kelompok acuan primer yang paling berpengaruh.
Peran dan status sosial seseorang menunjukkan kedudukan orang itu setiap kelompok sosial yang ia tempati. Peran meliputi kegiatan yang diharapkan akan dilakukan oleh seseorang. Masing-masing peran menghasilkan status. Contoh, seorang yang memiliki peran sebagai manajer dan status yang lebih tinggi dari pegawai kantor, dimana ia juga memiliki banyak keluarga dan anak, tentu ia akan tertarik dengan produk mobil dari Toyota, karena ada kesesuaian antara kebutuhan dan keunggulan Toyota sebagai mobil keluarga ideal terbaik Indonesia, ia bahkan juga bisa membeli pakaian mahal dan juga keluarganya, membeli rumah besar untuk keluarganya dan lain-lain.
·         Faktor pribadi
Keputusan membeli juga di pengaruhi oleh karakteristik pribadi. Karakteristik tersebut meliputi usia dan tahap dalam siklus hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, kepribadian dan konsep diri, juga nilai dan gaya hidup pembeli.
·         Faktor Psikologi
Titik awal untuk memahami perilaku konsumen adalah adanya rangsangan pemasaran luar seperti ekonomi, teknologi, politik, budaya. Satu perangkat psikologi berkombinasi dengan karakteristik konsumen tertentu untuk menghasilkan proses keputusan dan keputusan pembelian. Tugas pemasar adalah memahami apa yang terjadi dalam kesadaran konsumen antara datangnya rangsangan pemasaran luar dengan keputusan pembelian akhir. Empat proses psikologis (motivasi, persepsi, ingatan dan pembelajaran) secara fundamental, mempengaruhi tanggapan konsumen terhadap rangsangan pemasaran.
Sedangkan menurut James F. Engel – Roger D Blackwell-Paul W. Miniart dalam saladin terdapat tiga faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen yaitu :
1.      Pengaruh lingkungan, terdiri dari budaya, kelas sosial, keluarga dan situasi. Sebagai dasar utama perilaku konsumen adalah memahami pengaruh lingkungan yang membentuk atau menghambat individu dalam mengambil keputusan berkonsumsi mereka. Konsumen hidup dalam lingkungan yang kompleks, dimana perilaku keputusan mereka dipengaruhi oleh keempat faktor tersebut diatas.
2.      Perbedaan dan pengaruh individu, terdiri dari motivasi dan keterlibatan, pengetahuan, sikap, kepribadian, gaya hidup, dan demografi. Perbedaan individu merupkan faktor internal (interpersonal) yang menggerakkan serta mempengaruhi perilaku. Kelima faktor tersebut akan memperluas pengaruh perilaku konsumen dalam proses keputusannya.
3.      Proses psikologis, terdiri dari pengolahan informasi, pembelajaran, perubahan sikap dan perilaku. Ketiga faktor tersebut menambah minat utama dari penelitian konsumen sebagai faktor yang turut mempengaruhi perilaku konsumen dalam penambilan keputusan pembelian.
2.4 Gadget
Gadget dalam pengertian umum dianggap sebagai suatu perangkat elektronik yang memiliki fungsi khusus pada setiap perangkatnya. Contohnya: komputer, handphone, game konsole, dan lainnya.
2.5 Pembelian Secara Kredit
Kredit berasal dari bahasa Yunani, yaitu “credere” atau “credo” yang berarti kepercayaan (trust atau faith). Oleh karena itu dasar dari kegiatan pemberian kredit dari yang memberikan kredit kepada yang menerima kredit adalah kepercayaan.
Transaksi kredit timbul karena suatu pihak meminjam sejumlah uang atau sesuatu yang dipersamakan dengan itu, di mana pihak peminjam wajib melunasi hutangnya atau rekeningnya tersebut pada waktu yang telah ditentukan. Disamping itu kredit pun timbul sebagai akibat adanya transaksi jual beli, dimana pembayarannya ditangguhkan, baik sebagian maupun seluruhnya.
Adapun pengertian kredit menurut UU Perbankan No.7 tahun 1992 :
“Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara suatu perusahaan dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah uang, imbalan atau pembagian hasil keuntungan.”
Sedangkan pengertian kredit menurut Eric L. Kohler (1964;154) :
“Kredit adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu pembelian atau mengadakan suatu pinjaman dengan suatu janji pembayarannya akan dilakukan dan ditangguhkan pada suatu jangka waktu yang disepakati”. Pengertian kredit menurut Teguh Pudjo Muljono (1989;45) :
“Kredit adalah suatu penyertaan uang atau tagihan atau dapat juga barang yang menimbulkan tagihan tersebut pada pihak lain. Atau juga memberi pinjaman pada orang lain dengan harapan akan memperoleh suatu tambahan nilai dari pokok pinjaman tersebut yaitu berupa bunga sebagai pendapatan bagi pihak yang bersangkutan”.
Berdasarkan pada pengertian-pengertian diatas dapat diketahui bahwa transaksi kredit timbul sebagai akibat suatu pihak meminjam kepada pihak lain, baik itu berupa uang, barang dan sebagainya yang dapat menimbulkan tagihan bagi kreditur. Hal lain yang dapat menimbulkan transaksi kredit yaitu berupa kegiatan jual beli dimana pembayarannya akan ditangguhkan dalam suatu jangka waktu tertentu baik sebagian maupun seluruhnya. Kegiatan transaksi kredit tersebut diatas akan mendatangkan piutang atau tagihan bagi kreditur serta mendatangkan kewajiban untuk membayar bagi debitur.

2.6 Kerangka pemikiran
·         Price (harga) merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam pemasaran suatu produk karena harga adalah satu dari empat bauran pemasaran / marketing mix (4P = product, price, place, promotion / produk, harga, distribusi, promosi). Harga adalah suatu nilai tukar dari produk barang maupun jasa yang dinyatakan dalam satuan moneter.
Harga merupakan salah satu penentu keberhasilan suatu perusahaan karena harga menentukan seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh perusahaan dari penjualan produknya baik berupa barang maupun jasa.
Menetapkan harga terlalu tinggi akan menyebabkan penjualan akan menurun, namun jika harga terlalu rendah akan mengurangi keuntungan yang dapat diperoleh organisasi perusahaan.
·         Produk  merupakan salah satu aspek penting dalam variabel marketing mix. Produk juga merupakan salah satu variabel yang menentukan dalam kegiatan suatu usaha, karena tanpa produk, suatu perusahaan tidak dapat melakukan kegiatan untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Menurut William J. Stanton yang diterjemaahkan oleh Rakhmat A. (1996:222).
Produk menurut artinya secara sempit, produk adalah sekumpulan atribut fisik secara nyata yang terkait dalam sebuah bentuk yang dapat diidentifikasikan. Sedangkan secara umumnya, produk adalah sekumpulan atribut yang nyata dan tidak nyata yang didalamnya tercakup warna, harga, kemasan, prestise pengecer, dan pelayanan dari pabrik serta pengecer yang mungkin diterima oleh pembeli sebagai sesuatu yang bisa memuaskan keinginannya
·         Keputusan pembelian secara kredit
Transaksi kredit timbul karena adanya transaksi jual beli, dimana pembayarannya ditangguhkan, baik sebagian maupun seluruhnya. Keputusan membeli adalah kegiatan menyeleksi beberapa pilihan alternatif dengan mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan alternatif tersebut serta membuat pilihan yang sesuai dengan memilih salah satu alternatif yang ada. Keputusan membeli diukur dengan skala psikologis yang akan mengukur aspek-aspek dari keputusan membeli (Engel dkk, 1995) meliputi:
-          Pengenalan kebutuhan
-          Pencarian informasi
-          Evaluasi alternatif
-          Pembelian
-          Konsumsi
-          Pasca pembelian
Skor yang diperoleh menunjukan tinggi rendahnya keputusan membeli. Semakin tinggi skor, maka keputusan membeli terhadap suatu produk semakin diperluas.


Price
(X1)

Perilaku Konsumen
 (X)

Produk
(X2)
Faktor Lain yang tidak diteliti

Keputusan pembelian secara kredit
(Y)

 










Keterangan :
X1        = Variabel bebas (Price)
X2        = Varibel bebas (Produk)
Y          = Variabel terikat (Keputusan Pembelian Secara Kredit)
            = Pengaruh

2.7 Hipotesis
Berdasarkan uraian sebelumnya, merumuskan hipotesis sebagai berikut : “Diduga terdapat pengaruh positif dan signifikan perilaku konsumen terhadap Keputusan pembelian gadget secara kredit di lingkungan mahasiswa/i universitas gunadarma.



BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1.      Metode yang Digunakan

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey sampel. Di mana menggunakan tehnik wawancara untuk pengumpulan dan analisis data berupa opini dari subjek yang diteliti melalui wawancara. Dalam penelitian ini variabel yang diukur berdasarkan indikator variabel bebas (x), yaitu yang diukur berdasarkan indikator pada price (x1) dan produk (x2), sedangkan variabel (y), yaitu keputusan pembelian secara kredit .Metode ini dipilih untuk mengetahui pengaruh perilaku konsumen terhadap Keputusan pembelian gadget secara kredit di lingkungan mahasiswa secara simultan dan parsial.

3.2.      Sumber dan Cara Penentuan Data
            3.2.1.   Populasi Penelitian
Populasi adalah sekelompok mahkluk hidup dengan spesies yang sama, yang hidup di suatu wilayah yang sama dalam kurun waktu yang sama pula. Misalnya semua rusa di Isle Royale membentuk suatu populasi, begitu juga dengan pohon-pohon cemara Populasi dari penelitian ini adalah seluruh
            3.2.2.   Sampel Penelitian
Sampel adalah bagian dari populasi yang diharapkan mampu mewakili populasi dalam penelitian. Dalam penyusunan sampel perlu disusun kerangka sampling yaitu daftar dari semua unsur sampling dalam populasi sampling, dengan syarat:

                        a.  Harus meliputi seluruh unsur sampel
                        b.    Tidak ada unsur sampel yang dihitung dua kali
                        c.    Harus up to date
                        d.    Batas-batasnya harus jelas
                        e.    Harus dapat dilacak dilapangan
 Sampel dalam penelitian ini sebanyak 3 orang pada Mahasiswa Universitas Gunadarma.

3.3.      Teknik Pengumpulan Data
3.3.1.   Riset Perpustakaan
Digunakan sebagai landasan teoritis untuk pedoman dan pendukung terhadap data. Pendekatan kepustakaan dilakukan dengan cara membaca, menganalisa, mempelajari dan buku-buka laib yang relevan dengan hal yang di bahas dalam penelitian ini.

3.3.2.      Riset Data
Riset data dilakukan untuk memperoleh dan mengupulkan data dengan cara kuisioner atau angket. Dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan kepada karyawan. Angket atau kuisioner tersebut disusun berdasarkan indikator dari variabel-variabel yang diteliti kemudian dituangkan dalam bentuk item-tem dan pertanyaan yang harus dijawab anggota atau sampel atau responden tersebut.



3.4.      Teknik Pengumpulan Data
            3.4.1    Observasi
Suatu cara pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap suatu obyek dalam suatu periode tertentu dan mengadakan pencatatan secara sistematis tentang hal-hal tertentu yang diamati.
            3.4.2    Interview
Menggunakan wawancara langsung dengan pemimpin, staf, dan karyawan untuk memperoleh data-data sebenarnya.
            3.4.3    Dokumentasi
Pengambilan data secara tertulis yang sudah tersedia ditempat penelitian seperti :
·         Sejarah singkat perusahaan.
·         Struktur organisasi.
·         Data-data yang berhubungan dengan data penelitian.

3.4.4    Wawancara
Pengumpulan data dengan mendatangi langsung  kepada responden yang berupa pertanyaan-pertanyaan yang bersifat face to face, sehingga diperoleh data yang akurat berupa tanggapan langsung dari responden.




3.5.      Metode Analisis Data
3.5.1.   Pengujian Hipotesis
1.      Uji Hipotesis I (Uji F – ANNOVA)
Pengujian Annova (uji F) digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen dimana X1 (price) X2 (produk) secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan  terhadap variabel dependen Y (keputusan pembelian secara kredit). Untuk pengujian dalam SPSS digunakan kriteria sebagai berikut :
Jika nilai Sig. < 0.05 maka Ho ditolak
Jika nilai Sig. > 0.05 maka Ho diterima

Ho        : Price dan Produk tidak berpengaruh positif dan signifikan secara bersamaan
  terhadap keputusan pembalian secara kredit
Ha        : Price dan Produk berpengaruh positif dan signifikan secara bersamaan
   terhadap keputusan pembelian secara kredit

2.      Uji Hipotesis II (Uji t)
Pengujan t digunakan untuk mengetahui apakah model regresi variabel independen dimana X1 (Berorientasi pada pelaksanaan tugas), X2 (Berorientasi pada hubungan antar pekerjaan) secara parsial berpengaruh signifikan  terhadap variabel dependen Y (Kinerja Karyawan). Untuk pengujian dalam SPSS digunakan kriteria sebagai berikut :
Jika nilai Sig. < 0.05 maka Ho ditolak.
Jika nilai Sig. > 0.05 maka Ho diterima.

Uji hipotesis pengaruh variabel piece terhadap :
Ho  : r ≤ 0       (Price (X1) tidak berpengaruh yang positif dan signifikansi secara parsial
terhadap keputusan pembelian secara kredit (Y) pada Mahasiswa/i
Universitas Gunadarma).
Ha : r > 0        (Price (X1) berpengaruh yang positif dan signifikansi secara parsial
terhadap keputusan pembelian secara kredit (Y) pada Mahasiswa/i
Universitas Gunadarma.)

Uji hipotesis pengaruh variabel produk terhadap :
Ho  : r ≤ 0       (Produk (X2) tidak berpengaruh yang positif dan signifikansi secara parsial
terhadap keputusan pembelian secara kredit (Y) pada Mahasiswa/i
Universitas Gunadarma).

Ha : r > 0        (Produk (X2) berpengaruh yang positif dan signifikansi secara parsial
terhadap keputusan pembelian secara kredit (Y) pada Mahasiswa/i
Universitas Gunadarma).

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Hasil Uji Instrumen Penelitian
4.1.1. Hasil Uji Validitas
Untuk menentukan suatu item layak digunakan atau tidak, maka batas nilai minimal korelasi 0,30 bisa digunakan. Menurut Azwar (1999) semua item yang mencapai koefesien korelasi minimal 0,30 daya pembedanya dianggap memuaskan. Jadi item pernyataan yang memiliki nilai koefesien korelasi diatas 0,30 dinyatakan valid dan sebaliknya jika item pernyataan yang memiliki nilai koefesien korelasi dibawah 0,30 dinyatakan tidak valid.



Atribut Price
Item-Total Statistics

Scale Mean if Item Deleted
Scale Variance if Item Deleted
Corrected Item-Total Correlation
Cronbach's Alpha if Item Deleted
p1
16.30
4.900
.333
.744
p2
16.50
4.722
.476
.709
p3
16.70
3.122
.668
.617
p4
17.00
2.889
.711
.595
p5
16.70
4.678
.389
.728

Atribut Produk
Item-Total Statistics

Scale Mean if Item Deleted
Scale Variance if Item Deleted
Corrected Item-Total Correlation
Cronbach's Alpha if Item Deleted
pro1
18.40
2.933
.585
.717
pro2
17.60
2.933
.427
.758
pro3
17.50
2.944
.469
.745
pro4
17.90
1.433
.936
.537
pro5
17.40
3.156
.415
.761





Atribut Keputusan Pembelian Secara Kredit
Item-Total Statistics

Scale Mean if Item Deleted
Scale Variance if Item Deleted
Corrected Item-Total Correlation
Cronbach's Alpha if Item Deleted
Kp1
17.40
2.044
.516
.652
Kp2
17.70
1.789
.552
.629
Kp3
18.50
2.056
.401
.692
Kp4
17.60
1.822
.542
.634
Kp5
17.60
2.044
.361
.710







Dari hasil olah data di atas, di dapat bahwa semua instrument telah valid karena item pernyataan yang memiliki nilai koefesien korelasi diatas 0,30 dari hasil Corrected Item Total Correlation. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Pernyataan
Corrected Item Total Correlation
r tabel
Keterangan
p1
0.333
0.30
Valid
p2
0.476
0.30
Valid
p3
0.668
0.30
Valid
p4
0.711
0.30
Valid
p5
0.389
0.30
Valid
pro1
0.585
0.30
Valid
pro2
0.427
0.30
Valid
pro3
0.469
0.30
Valid
pro4
0.936
0.30
Valid
pro5
0.415
0.30
Valid
Kp1
0.516
0.30
Valid
Kp2
0.552
0.30
Valid
Kp3
0.401
0.30
Valid
Kp4
0.542
0.30
Valid
Kp5
0.361
0.30
Valid

4.1.2. Hasil Uji Reabilitas
  Berdasarkan hasil tabel dibawah ini dapat disimpulkan secara keseluruhan bahwa instrumen-instrumen yang digunakan sudah reliabel karena diperoleh dari angka Cronbach’s Alpha sebesar 0.707 dimana lebih dari 0.60. berikut hasil perhitungan keseluruhan isntrumen :
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
N of Items
.707
15




4.2. Hasil Pengujian Hipotesis
4.2.1.   Hasil Uji Simultan
Pengujian simultan digunakan untuk mengetahui apakah variabel X1 (Pice), X2 (Produk) secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap variabel Y (Keputusan Pembelian Secara Kredit). Hasil uji F dilihat pada tabel berikut :
ANOVAa
Model
Sum of Squares
df
Mean Square
F
Sig.
1
Regression
7.253
2
3.626
1.384
.312b
Residual
18.347
7
2.621


Total
25.600
9



a. Dependent Variable: Y
b. Predictors: (Constant), X2, X1

Dari hasil perhitungan yang didapat dari tabel diatas diperoleh nilai F sebesar 1.384 dengan tingkat signifikan 0.312 > 0.05. Dimana Ho diteriman, yang artinya bahwa tidak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara Price (X1) dan Produk (X2) secara simultan terhadap  Keputusan Pembelian Secara Kredit (Y) pada Mahasiswa/i Universitas Gunadarma.

4.2.2.   Hasil Uji Parsial
Pengujan ini digunakan untuk mengetahui apakah variabel X1 (Price), X2 (Produk)  secara parsial berpengaruh atau tidak berpengaruhnya secara positif dan  signifikan  terhadap variabel Y (Keputusan Pembelian Secara Kredit). Hasil uji t dapat dilihat pada tabel dibawah ini :


Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t
Sig.
B
Std. Error
Beta
1
(Constant)
21.158
6.551

3.230
.014
X1
-.350
.239
-.506
-1.466
.186
X2
.375
.293
.442
1.279
.242
a. Dependent Variable: Y

a)      Uji Hipotesis analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen pada variabel Price (X1) dalam keputusan pembelian secara kredit (Y) pada Mahasiswa/i Universitas Gunadarma).
Didapat dari hasi tabel diatas nilai t hitung untuk X1 (Price) sebesar -1.466. Dengan menggunakan singnifikansi 0.186 dimana lebih besar dari 0.05, yaitu bahwa Ha diterima. Dapat disimpulkan bahwa variabel Price tidak berpengaruh yang positif dan signifikansi secara parsial terhadap keputusan pembelian secara kredit (Y) pada Mahasiswa/I Universitas Gunadarma.

b)     Uji Hipotesis analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen pada variabel Produk (X2) dalam keputusan pembelian secara kredit (Y) pada Mahasiswa/i Universitas Gunadarma).
Didapat dari hasi tabel diatas nilai t hitung untuk X2 (Produk) sebesar 1.279. Dengan menggunakan singnifikansi 0.242 dimana lebih besar dari 0.05, yaitu bahwa Ha diterima. Dapat disimpulkan bahwa variabel Produk tidak berpengaruh yang positif dan signifikansi secara parsial terhadap keputusan pembelian secara kredit (Y) pada Mahasiswa/I Universitas Gunadarma.





BAB V
KESIMPULAN
Setelah melakukan penelitian dan analisis data mengenai Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Dalam Keputusan Membeli Gadget Secara Kredit Di Lingkungan Mahasiswa/i Universitas Gunadarma. Di dapat sebuah hasil uji terhadap hipotesis-hipotesis yang ada dalam penelitian ini baik secara simultan maupun parsial, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.      Berdasarkan hasil uji secara simultan nilai sig. sebesar 0.312 yang berarti bahwa tidak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara Price (X1) dan Produk (X2) secara simultan terhadap  Keputusan Pembelian Secara Kredit (Y) pada Mahasiswa/i Universitas Gunadarma.
2.      Berdasarkan hasil uji secara parsial di dapat nilai Sig. t pada variabel Price (X1) sebesar 0.186 > 0.05 yang artinya variabel Price tidak berpengaruh yang positif dan signifikansi secara parsial terhadap keputusan pembelian secara kredit (Y) pada Mahasiswa/I Universitas Gunadarma. Dan begitupun sama dengan hasil pada variabel Produk (X2) sebesar 0.242 > 0.05 yang artinya variabel Produk tidak berpengaruh yang positif dan signifikansi secara parsial terhadap keputusan pembelian secara kredit (Y) pada Mahasiswa/I Universitas Gunadarma.

DAFTAR PUSTAKA
























Kamis, 18 Oktober 2012




Manajemen Pemasaran. Definisi Segmentasi Pasar
Swastha & Handoko (1997) mengartikan segmentasi pasar sebagai kegiatan membagi–bagi pasar/market yang bersifat heterogen kedalam satuan–satuan pasar yang bersifat homogen.
Sedangkan definisi yang diberikan oleh Pride & Ferrel (1995)mengatakan bahwa segmentasi pasar adalah suatu proses membagi pasar ke dalam segmen-segmen pelanggan potensial dengan kesamaan karakteristik yang menunjukkan adanya kesamaan perilaku pembeli.
Di lain pihak Pride & Ferrel (1995) mendefinisikan segmentasi pasarsebagai suatu proses pembagian pasar keseluruhan menjadi kelompok–kelompok pasar yang terdiri dari orang–orang yang secara relatif memiliki kebutuhan produk yang serupa.
Ada lagi pendapat Swastha & Handoko (1987) yang merumuskan segmentasi pasar adalah suatu tindakan membagi pasar menjadi segmen–segmen pasar tertentu yang dijadikan sasaran penjualan yang akan dicapai dengan marketing mix.
Menurut Kotler, Bowen dan Makens (2002, p.254) pasar terdiri dari pembeli dan pembeli berbeda-beda dalam berbagai hal yang bisa membeli dalam keinginan, sumber daya, lokasi, sikap membeli, dan kebiasaan membeli. Karena masing-masing memiliki kebutuhan dan keinginan yang unik, masing-masing pembeli merupakan pasar potensial tersendiri. Oleh sebab itu penjual idealnya mendisain program pemasarannya tersendiri bagi masing-masing pembeli. Segmentasi yang lengkap membutuhkan biaya yang tinggi, dan kebanyakan pelanggan tidak dapat membeli produk yang benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk itu, perusahaan mencari kelas-kelas pembeli yang lebih besar dengan kebutuhan produk atau tanggapan membeli yang berbeda-beda. Segmen pasar terdiri dari kelompok pelanggan yang memiliki seperangkat keinginan yang sama (Kotler, 2005, p.307.

Manfaat dan Kelemahan Segmentasi

Banyaknya perusahaan yang melakukan segmentasi pasar atas dasar pengelompokkan variabel tertentu. Dengan menggolongkan atau mensegmentasikan pasar seperti itu, dapat dikatakan bahwa secara umum perusahaan mempunyai motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkat penjualan dan yang lebih penting lagi agar operasi perusahaan dalam jangka panjang dapat berkelanjutan dan kompetitif (Porter, 1991).
Manfaat yang lain dengan dilakukannya segmentasi pasar, antara lain:
1. Perusahaan akan dapat mendeteksi secara dini dan tepat mengenai kecenderungan-kecenderungan dalam pasar yang senantiasa berubah.
2. Dapat mendesign produk yang benar-benar sesuai dengan permintaan pasar.
3. Dapat menentukan kampanye dan periklanan yang paling efektif.
4. Dapat mengarahkan dana promosi yang tersedia melalui media yang tepat bagi segmen yang diperkirakan akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar.
5. Dapat digunakan untuk mengukur usaha promosi sesuai dengan masa atau periode-periode dimana reaksi pasar cukup besar.
Gitosudarmo (2000) menambahkan manfaat segmentasi pasar ini, sebagai berikut:
1. Dapat membedakan antara segmen yang satu dengan segmen lainnya.
2. Dapat digunakan untuk mengetahui sifat masing-masing segmen.
3. Dapat digunakan untuk mencari segmen mana yang potensinya paling besar.
4. Dapat digunakan untuk memilih segmen mana yang akan dijadikan pasar sasaran.
Sekalipun tindakan segmentasi memiliki sederetan keuntungan dan manfaat, namun juga mengandung sejumlah resiko yang sekaligus merupakan kelemahan-kelemahan dari tindakan segmentasi itu sendiri, antara lain:
1. Biaya produksi akan lebih tinggi, karena jangka waktu proses produksi lebih pendek.
2. Biaya penelitian/ riset pasar akan bertambah searah dengan banyaknya ragam dan macam segmen pasar yang ditetapkan.
3. Biaya promosi akan menjadi lebih tinggi, ketika sejumlah media tidak menyediakan diskon.
4. Kemungkinan akan menghadapi pesaing yang membidik segmen serupa.
Bahkan mungkin akan terjadi persaingan yang tidak sehat, misalnya kanibalisme sesama produsen untuk produk dan segmen yang sama.

Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Melakukan Segmentasi

Pengusaha yang melakukan segmentasi pasar akan berusaha mengelompokkan konsumen kedalam beberapa segmen yang secara relatif memiliki sifat-sifat homogen dan kemudian memperlakukan masing-masing segmen dengan cara atau pelayanan yang berbeda.
Seberapa jauh pengelompokkan itu harus dilakukan, nampaknya banyak faktor yang terlebih dahulu perlu dicermati. Faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut:
1. Variabel-Variabel Segmentasi
Sebagaimana diketahui bahwa konsumen memiliki berbagai dimensi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan segmentasi pasar. Penggunaan dasar segmentasi yang tepat dan berdaya guna akan lebih dapat menjamin keberhasilan suatu rencana strategis pemasaran. Salah satu dimensi yang dipandang memiliki peranan utama dalam menentukan segmentasi pasar adalah variabel-variabel yang terkandung dalam segmentasi itu sendiri, dan oleh sebab ituperlu dipelajari.
Dalam hubungan ini Kotler (1995) mengklasifikasikan jenis-jenis variabel segmentasi sebagai berikut:
1.Segmentasi Geografi
Segmentasi ini membagi pasar menjadi unit-unit geografi yang berbeda, seperti negara, propinsi, kabupaten, kota, wilayah, daerah atau kawasan. Jadi dengan segmentasi ini, pemasar memperoleh kepastian kemana atau dimana produk ini harus dipasarkan.
2. Segmentasi Demografi
Segmentasi ini memberikan gambaran bagi pemasar kepada siapa produk ini harus ditawarkan. Jawaban atas pertanyaan kepada siapa dapat berkonotasi pada umur, jenis kelamin, jumlah anggota keluarga, siklus kehidupan keluarga seperti anak-anak, remaja, dewasa, kawin/ belum kawin, keluarga muda dengan satu anak, keluarga dengan dua anak, keluarga yang anak-anaknya sudah bekerja dan seterusnya. Dapat pula berkonotasi pada tingkat penghasilan, pendidikan, jenis pekerjaan, pengalaman, agama dan keturunan
misalnya: Jawa, Madura, Bali, Manado, Cina dan sebagainya.
3. Segmentasi Psikografi
Pada segmentasi ini pembeli dibagi menjadi kelompok-kelompok berdasarkan:
a. Status sosial, misalnya: pemimpin masyarakat, pendidik, golongan elite, golongan menengah, golongan rendah.
b. Gaya hidup misalnya: modern, tradisional, kuno, boros, hemat, mewah dan sebagainya.
c. Kepribadian, misalnya: penggemar, pecandu atau pemerhati suatu produk.
4. Segmentasi Tingkah Laku
Segmentasi tingkah laku mengelompokkan pembeli berdasarkan pada pengetahuan, sikap, penggunaan atau reaksi mereka terhadap suatu produk. Banyak pemasar yakin bahwa variabel tingkah laku merupakan awal paling baik untuk membentuk segmen pasar.
Segmentasi perilaku dapat diukur menggunakan indikator sebagai berikut (Armstrong, 1997):
1. Manfaat yang dicari
Salah satu bentuk segmentasi yang ampuh adalah mengelompokkan pembeli menurut manfaat berbeda yang mereka cari dari produk. Segmentasi manfaat menuntut ditemukannya manfaat utama yang dicari orang dalam kelas produk, jenis orang yang mencari setiap manfaat dan merek utama yang mempunyai setiap manfaat. Perusahaan dapat menggunakan segmentasi manfaat untuk memperjelas segmen manfaat yang mereka inginkan, karakteristiknya serta merek utama yang bersaing. Mereka juga dapat mencari manfaat baru dan meluncurkan merek yang memberikan manfaat tersebut.
2. Status Pengguna
Pasar dapat disegmentasikan menjadi kelompok bukan pengguna, mantan pengguna, pengguna potensial, pengguna pertama kali dan pengguna regular dari suatu produk. Pengguna potensial dan pengguna regular mungkin memerlukan imbauan pemasaran yang berbeda.
3. Tingkat Pemakaian
Pasar dapat juga disegmentasikan menjadi kelompok pengguna ringan, menengah dan berat. Jumlah pengguna berat sering kali hanya persentase kecil dari seluruh pasar, tetapi menghasilkan persentase yang tinggi dari total pembelian. Pengguna produk dibagi menjadi dua bagian sama banyak, sebagian pengguna ringan dan sebagian lagi pengguna berat menurut tingkat pembelian dari produk spesifik.
4. Status Loyalitas

Sebuah pasar dapat juga disegmentasikan berdasarkan loyalitas konsumen. Konsumen dapat loyal terhadap merek, toko dan perusahaan. Pembeli dapat dibagi menjadi beberapa kelompok menurut tingkat loyalitas mereka. Beberapa konsumen benar-benar loyal, mereka selalu membeli satu macam merek. Kelompok lain agak loyal,mereka loyal pada dua merek atau lebih dari satu produk atau menyukai satu merek tetapi kadang-kadang membeli merek lain. Pembeli lain tidak menunjukkan loyalitas pada merek apapun. Mereka mungkin ingin sesuatu yang baru setiap kali atau mereka membeli apapun yang diobral.


Senin, 19 Maret 2012

Hanoman (Sanskerta: हनुमान्; Hanumān) atau Hanumat (Sanskerta: हनुमत्; Hanumat), juga disebut sebagai Anoman, adalah salah satu dewa dalam kepercayaan agama Hindu, sekaligus tokoh protagonis dalam wiracarita Ramayana yang paling terkenal. Ia adalah seekor kera putih dan merupakan putera Batara Bayu dan Anjani, saudara dari Subali dan Sugriwa. Menurut kitab Serat Pedhalangan, tokoh Hanoman sebenarnya memang asli dari wiracarita Ramayana, namun dalam pengembangannya tokoh ini juga kadangkala muncul dalam serial Mahabharata, sehingga menjadi tokoh antar zaman. Di India, hanoman dipuja sebagai dewa pelindung dan beberapa kuil didedikasikan untuk memuja dirinya.

 Kelahiran

Hanoman lahir pada masa Tretayuga sebagai putera Anjani, seekor wanara wanita. Dahulu Anjani sebetulnya merupakan bidadari, bernama Punjikastala. Namun karena suatu kutukan, ia terlahir ke dunia sebagai wanara wanita. Kutukan tersebut bisa berakhir apabila ia melahirkan seorang putera yang merupakan penitisan Siwa. Anjani menikah dengan Kesari, seekor wanara perkasa. Bersama dengan Kesari, Anjani melakukan tapa ke hadapan Siwa agar Siwa bersedia menjelma sebagi putera mereka. Karena Siwa terkesan dengan pemujaan yang dilakukan oleh Anjani dan Kesari, ia mengabulkan permohonan mereka dengan turun ke dunia sebagai Hanoman.
Salah satu versi menceritakan bahwa ketika Anjani bertapa memuja Siwa, di tempat lain, Raja Dasarata melakukan Putrakama Yadnya untuk memperoleh keturunan. Hasilnya, ia menerima beberapa makanan untuk dibagikan kepada tiga istrinya, yang di kemudian hari melahirkan Rama, Laksmana, Bharata dan Satrugna. Atas kehendak dewata, seekor burung merenggut sepotong makanan tersebut, dan menjatuhkannya di atas hutan dimana Anjani sedang bertapa. Bayu, Sang dewa angin, mengantarkan makanan tersebut agar jatuh di tangan Anjani. Anjani memakan makanan tersebut, lalu lahirlah Hanoman.

Sebuah lukisan India. Dalam gambar tampak Hanoman menghadap Rama bersama istrinya Sita, dan Laksmana (paling kanan).
Salah satu versi mengatakan bahwa Hanoman lahir secara tidak sengaja karena hubungan antara Bayu dan Anjani. Diceritakan bahwa pada suatu hari, Dewa Bayu melihat kecantikan Anjani, kemudian ia memeluknya. Anjani marah karena merasa dilecehkan. Namun Dewa Bayu menjawab bahwa Anjani tidak akan ternoda oleh sentuhan Bayu. Ia memeluk Anjani bukan di badannya, namun di dalam hatinya. Bayu juga berkata bahwa kelak Anjani akan melahirkan seorang putera yang kekuatannya setara dengan Bayu dan paling cerdas di antara para wanara.
Sebagai putera Anjani, Hanoman dipanggil Anjaneya (diucapkan "Aanjanèya"), yang secara harfiah berarti "lahir dari Anjani" atau "putera Anjani".

Masa kecil

Pada saat Hanoman masih kecil, ia mengira matahari adalah buah yang bisa dimakan, kemudian terbang ke arahnya dan hendak memakannya. Dewa Indra melihat hal itu dan menjadi cemas dengan keselamatan matahari. Untuk mengantisipasinya, ia melemparkan petirnya ke arah Hanoman sehingga kera kecil itu jatuh dan menabrak gunung. Melihat hal itu, Dewa Bayu menjadi marah dan berdiam diri. Akibat tindakannya, semua makhluk di bumi menjadi lemas. Para Dewa pun memohon kepada Bayu agar menyingkirkan kemarahannya. Dewa Bayu menghentikan kemarahannya dan Hanoman diberi hadiah melimpah ruah. Dewa Brahma dan Dewa Indra memberi anugerah bahwa Hanoman akan kebal dari segala senjata, serta kematian akan datang hanya dengan kehendaknya sendiri. Maka dari itu, Hanoman menjadi makhluk yang abadi atau Chiranjiwin.

Pertemuan dengan Rama


Patung Hanoman yang dibuat pada masa Dinasti Chola, abad ke-11.
Pada saat melihat Rama dan Laksmana datang ke Kiskenda, Sugriwa merasa cemas. Ia berpikir bahwa mereka adalah utusan Subali yang dikirim untuk membunuh Sugriwa. Kemudian Sugriwa memanggil prajurit andalannya, Hanoman, untuk menyelidiki maksud kedatangan dua orang tersebut. Hanoman menerima tugas tersebut kemudian ia menyamar menjadi brahmana dan mendekati Rama dan Laksmana.
Saat bertemu dengan Rama dan Laksmana, Hanoman merasakan ketenangan. Ia tidak melihat adanya tanda-tanda permusuhan dari kedua pemuda itu. Rama dan Laksmana juga terkesan dengan etika Hanoman. Kemudian mereka bercakap-cakap dengan bebas. Mereka menceritakan riwayat hidupnya masing-masing. Rama juga menceritakan keinginannya untuk menemui Sugriwa. Karena tidak curiga lagi kepada Rama dan Laksmana, Hanoman kembali ke wujud asalnya dan mengantar Rama dan Laksmana menemui Sugriwa.

Petualangan mencari Sita

Dalam misi membantu Rama mencari Sita, Sugriwa mengutus pasukan wanara-nya agar pergi ke seluruh pelosok bumi untuk mencari tanda-tanda keberadaan Sita, dan membawanya ke hadapan Rama kalau mampu. Pasukan wanara yang dikerahkan Sugriwa dipimpin oleh Hanoman, Anggada, Nila, Jembawan, dan lain-lain. Mereka menempuh perjalanan berhari-hari dan menelusuri sebuah gua, kemudian tersesat dan menemukan kota yang berdiri megah di dalamnya. Atas keterangan Swayampraba yang tinggal di sana, kota tersebut dibangun oleh arsitek Mayasura dan sekarang sepi karena Maya pergi ke alam para Dewa. Lalu Hanoman menceritakan maksud perjalanannya dengan panjang lebar kepada Swayampraba. Atas bantuan Swayampraba yang sakti, Hanoman dan wanara lainnya lenyap dari gua dan berada di sebuah pantai dalam sekejap.
Di pantai tersebut, Hanoman dan wanara lainnya bertemu dengan Sempati, burung raksasa yang tidak bersayap. Ia duduk sendirian di pantai tersebut sambil menunggu bangkai hewan untuk dimakan. Karena ia mendengar percakapan para wanara mengenai Sita dan kematian Jatayu, Sempati menjadi sedih dan meminta agar para wanara menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi. Anggada menceritakan dengan panjang lebar kemudian meminta bantuan Sempati. Atas keterangan Sempati, para wanara tahu bahwa Sita ditawan di sebuah istana yang teretak di Kerajaan Alengka. Kerajaan tersebut diperintah oleh raja raksasa bernama Rahwana. Para wanara berterima kasih setelah menerima keterangan Sempati, kemudian mereka memikirkan cara agar sampai di Alengka.

Pergi ke Alengka


Ukiran tanah liat yang menggambarkan Hanoman sedang mengangkat Gunung Dronagiri.
Karena bujukan para wanara, Hanoman teringat akan kekuatannya dan terbang menyeberangi lautan agar sampai di Alengka. Setelah ia menginjakkan kakinya di sana, ia menyamar menjadi monyet kecil dan mencari-cari Sita. Ia melihat Alengka sebagai benteng pertahanan yang kuat sekaligus kota yang dijaga dengan ketat. Ia melihat penduduknya menyanyikan mantra-mantra Weda dan lagu pujian kemenangan kepada Rahwana. Namun tak jarang ada orang-orang bermuka kejam dan buruk dengan senjata lengkap. Kemudian ia datang ke istana Rahwana dan mengamati wanita-wanita cantik yang tak terhitung jumlahnya, namun ia tidak melihat Sita yang sedang merana. Setelah mengamati ke sana-kemari, ia memasuki sebuah taman yang belum pernah diselidikinya. Di sana ia melihat wanita yang tampak sedih dan murung yang diyakininya sebagai Sita.
Kemudian Hanoman melihat Rahwana merayu Sita. Setelah Rahwana gagal dengan rayuannya dan pergi meninggalkan Sita, Hanoman menghampiri Sita dan menceritakan maksud kedatangannya. Mulanya Sita curiga, namun kecurigaan Sita hilang saat Hanoman menyerahkan cincin milik Rama. Hanoman juga menjanjikan bantuan akan segera tiba. Hanoman menyarankan agar Sita terbang bersamanya ke hadapan Rama, namun Sita menolak. Ia mengharapkan Rama datang sebagai ksatria sejati dan datang ke Alengka untuk menyelamatkan dirinya. Kemudian Hanoman mohon restu dan pamit dari hadapan Sita. Sebelum pulang ia memporak-porandakan taman Asoka di istana Rahwana. Ia membunuh ribuan tentara termasuk prajurit pilihan Rahwana seperti Jambumali dan Aksha. Akhirnya ia dapat ditangkap Indrajit dengan senjata Brahma Astra. Senjata itu memilit tubuh hanoman. Namun kesaktian Brahma Astra lenyap saat tentara raksasa menambahkan tali jerami. Indrajit marah bercampur kecewa karena Brahma Astra bisa dilepaskan Hanoman kapan saja, namun Hanoman belum bereaksi karena menunggu saat yang tepat.

 Terbakarnya Alengka

Ketika Rahwana hendak memberikan hukuman mati kepada Hanoman, Wibisana membela Hanoman agar hukumannya diringankan, mengingat Hanoman adalah seorang utusan. Kemudian Rahwana menjatuhkan hukuman agar ekor Hanoman dibakar. Melihat hal itu, Sita berdo'a agar api yang membakar ekor Hanoman menjadi sejuk. Karena do'a Sita kepada Dewa Agni terkabul, api yang membakar ekor Hanoman menjadi sejuk. Lalu ia memberontak dan melepaskan Brahma Astra yang mengikat dirinya. Dengan ekor menyala-nyala seperti obor, ia membakar kota Alengka. Kota Alengka pun menjadi lautan api. Setelah menimbulkan kebakaran besar, ia menceburkan diri ke laut agar api di ekornya padam. Penghuni surga memuji keberanian Hanoman dan berkata bahwa selain kediaman Sita, kota Alengka dilalap api.

KEWAJIBAN WARGA NEGARA


KEWAJIBAN SEBAGAI WARGA NEGARA
1.Setiap warga negara memiki kewajiban untuk berperan serta dalam membela,mempertahankan kedaulatan negara dari tangan musuh
2.Setiap warga negara wajib membayar pajak dan retribusi yang ditetapkan oleh pemerintah pusat dan Pemeritah daerah
3.Setiap warga negara berkewajiban taat,tunduk dan patuh segala setiap hukum yang berlaku di negara Indonesia
4.setiap warga negara wajib turut serta dalam pembangunan untuk membangun bangsa agar bangsa kita bisa berkembang dan maju kerah yang lebih baik.

hak warga negara


HAK-HAK SEBAGAI WARGA NEGARA:
1.Setiap warga negara berhak mendapatkan perlindungan hukum.
2.Setiap warga negara berhak mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak.
3.Setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di mata hukum dan di mata Pemerintahan.
4.Setiap warga negara bebas untuk memilih, memeluk dan menjalankan agama dan kepercayaan               masing-masing.
5.setiap nwarga negara berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran.

PENGALAMAN PEJALANAN LIBURAN BERSAMA TEMAN


                 Perkenalkan nama saya HADY MAULANA FAJRI,saya ingin menceritakan perjalanan saya bersama teman-teman saya waktu menuju ke Cibodas Bogor.Pengalaman tersebut menurut saya tidak bisa di lupakan begitu saja karena banyak pengalaman-pengalaman yang sangat berkesan  bagi saya dan teman-teman saya.Awal perjalanan kami di awali dari depok berkumpul di kos-kosan teman saya bernama Surya pakom hadinata,kami berangkat malam kira-kira jam23.00 dan kami berangkat menggunakan sepeda motor,kami sampai di Cibodas kira-kira jam01.00 pagi,setelah sampai di Cibodas kami istirahat  utuk merencanakan kegiatan kami besok pagi,ternyata kami memutuskan untuk naik gunung Gede pangrango,setelah memutuskan rencana kami berangkat jam07.00 tetapi rencana kami batal untuk menaiki gunung gede pangrango karena ada teman kami yang bernama Cevy hidayat tidak kuat untuk naik naik gunung karena penyakit Asmanya kambuh.Dengan berat hati kami batal mendaki gunung gede pangrango dan kami memutuskan untuk berangkat menuju air terjun Cilember.Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang untuk mencapai curug cilember akhirnya kami samai juga disana,luar biasa sekali setelah kita berjuang dan kecewa tidak jadi mendaki Gunung gede pangrango akhinya penderitaan kami terobati dengan melihat Pemandangan yang luar biasa.Dari perjalanan tersebut saya mendapat pengalaman yang luar biasa bahwa karunia Tuhan Yang Maha Eas patut kita syukuri dan juga menjaga keindahan alam tersebut agar tetap terjaga dengan baik.

Rabu, 11 Januari 2012

koperasi

  
koperasi usaha



Koperasi adalah organisasi bisnis yang dimiliki dan dioperasikan oleh orang-seorang demi kepentingan bersama. Koperasi melandaskan kegiatan berdasarkan prinsip gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan.

Prinsip koperasi

Prinsip koperasi adalah suatu sistem ide-ide abstrak yang merupakan petunjuk untuk membangun koperasi yang efektif dan tahan lama. Prinsip koperasi terbaru yang dikembangkan International Cooperative Alliance (Federasi koperasi non-pemerintah internasional) adalah
Di Indonesia sendiri telah dibuat UU no. 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian. Prinsip koperasi menurut UU no. 25 tahun 1992 adalah:
  • Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka
  • Pengelolaan dilakukan secara demokrasi
  • Pembagian SHU dilakukan secara adil sesuai dengan jasa usaha masing-masing anggota
  • Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal
  • Kemandirian
  • Pendidikan perkoperasian
  • Kerjasama antar koperasi

 Bentuk dan Jenis Koperasi

Jenis Koperasi menurut fungsinya

  • Koperasi pembelian/pengadaan/konsumsi adalah koperasi yang menyelenggarakan fungsi pembelian atau pengadaan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan anggota sebagai konsumen akhir. Di sini anggota berperan sebagai pemilik dan pembeli atau konsumen bagi koperasinya.
  • Koperasi penjualan/pemasaran adalah koperasi yang menyelenggarakan fungsi distribusi barang atau jasa yang dihasilkan oleh anggotanya agar sampai di tangan konsumen. Di sini anggota berperan sebagai pemilik dan pemasok barang atau jasa kepada koperasinya.
  • Koperasi produksi adalah koperasi yang menghasilkan barang dan jasa, dimana anggotanya bekerja sebagai pegawai atau karyawan koperasi. Di sini anggota berperan sebagai pemilik dan pekerja koperasi.
  • Koperasi jasa adalah koperasi yang menyelenggarakan pelayanan jasa yang dibutuhkan oleh anggota, misalnya: simpan pinjam, asuransi, angkutan, dan sebagainya. Di sini anggota berperan sebagai pemilik dan pengguna layanan jasa koperasi.
Apabila koperasi menyelenggarakan satu fungsi disebut koperasi tunggal usaha (single purpose cooperative), sedangkan koperasi yang menyelenggarakan lebih dari satu fungsi disebut koperasi serba usaha (multi purpose cooperative).

Jenis koperasi berdasarkan tingkat dan luas daerah kerja

  • Koperasi Primer
Koperasi primer ialah koperasi yang yang minimal memiliki anggota sebanyak 20 orang perseorangan.
  • Koperasi Sekunder
Adalah koperasi yang terdiri dari gabungan badan-badan koperasi serta memiliki cakupan daerah kerja yang luas dibandingkan dengan koperasi primer. Koperasi sekunder dapat dibagi menjadi :
  • koperasi pusat - adalah koperasi yang beranggotakan paling sedikit 5 koperasi primer
  • gabungan koperasi - adalah koperasi yang anggotanya minimal 3 koperasi pusat
  • induk koperasi - adalah koperasi yang minimum anggotanya adalah 3 gabungan koperasi

 Jenis Koperasi menurut status keanggotaannya

  • Koperasi produsen adalah koperasi yang anggotanya para produsen barang/jasa dan memiliki rumah tangga usaha.
  • Koperasi konsumen adalah koperasi yang anggotanya para konsumen akhir atau pemakai barang/jasa yang ditawarkan para pemasok di pasar.
Kedudukan anggota di dalam koperasi dapat berada dalam salah satu status atau keduanya. Dengan demikian pengelompokkan koperasi menurut status anggotanya berkaitan erat dengan pengelompokan koperasi menurut fungsinya.

Keunggulan koperasi

Kemungkinan koperasi untuk memperoleh keunggulan komparatif dari perusahaan lain cukup besar mengingat koperasi mempunyai potensi kelebihan antara lain pada skala ekonomi, aktivitas yang nyata, faktor-faktor precuniary, dan lain-lain.

 Kewirausahaan koperasi

Kewirausahaan koperasi adalah suatu sikap mental positif dalam berusaha secara koperatif, dengan mengambil prakarsa inovatif serta keberanian mengambil risiko dan berpegang teguh pada prinsip identitas koperasi, dalam mewujudkan terpenuhinya kebutuhan nyata serta peningkatan kesejahteraan bersama.Dari definisi tersebut, maka dapat dikemukakan bahwa kewirausahaan koperasi merupakan sikap mental positif dalam berusaha secara koperatif
Tugas utama wirakop adalah mengambil prakarsa inovatif, artinya berusaha mencari, menemukan, dan memanfaatkan peluang yang ada demi kepentingan bersama. Kewirausahaan dalam koperasi dapat dilakukan oleh anggota, manajer birokrat yang berperan dalam pembangunan koperasi dan katalis, yaitu orang yang peduli terhadap pengembangan koperasi.

 Pengurus

Pengurus koperasi dipilih dari kalangan dan oleh anggota dalam suatu rapat anggota. Ada kalanya rapat anggota tersebut tidak berhasil memilih seluruh anggota Pengurus dari kalangan anggota sendiri. Hal demikian umpamanya terjadi jika calon-calon yang berasal dari kalangan-kalangan anggota sendiri tidak memiliki kesanggupan yang diperlukan untuk memimpin koperasi yang bersangkutan, sedangkan ternyata bahwa yang dapat memenuhi syarat-syarat ialah mereka yang bukan anggota atau belum anggota koperasi (mungkin sudah turut dilayani oleh koperasi akan tetapi resminya belum meminta menjadi anggota).

Koperasi di Indonesia

Koperasi di Indonesia, menurut UU tahun 1992, didefinisikan sebagai badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip-prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Di Indonesia, prinsip koperasi telah dicantumkan dalam UU No. 12 Tahun 1967 dan UU No. 25 Tahun 1992.
Prinsip koperasi di Indonesia kurang lebih sama dengan prinsip yang diakui dunia internasional dengan adanya sedikit perbedaan, yaitu adanya penjelasan mengenai SHU (Sisa Hasil Usaha).

Sejarah koperasi di Indonesia

Logo Gerakan Koperasi Indonesia
Sejarah singkat gerakan koperasi bermula pada abad ke-20 yang pada umumnya merupakan hasil dari usaha yang tidak spontan dan tidak dilakukan oleh orang-orang yang sangat kaya. Koperasi tumbuh dari kalangan rakyat, ketika penderitaan dalam lapangan ekonomi dan sosial yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme semakin memuncak.Beberapa orang yang penghidupannya sederhana dengan kemampuan ekonomi terbatas, terdorong oleh penderitaan dan beban ekonomi yang sama, secara spontan mempersatukan diri untuk menolong dirinya sendiri dan manusia sesamanya.
Pada tahun 1896 seorang Pamong Praja Patih R.Aria Wiria Atmaja di Purwokerto mendirikan sebuah Bank untuk para pegawai negeri (priyayi). Ia terdorong oleh keinginannya untuk menolong para pegawai yang makin menderita karena terjerat oleh lintah darat yang memberikan pinjaman dengan bunga yang tinggi. Maksud Patih tersebut untuk mendirikan koperasi kredit model seperti di Jerman. Cita-cita semangat tersebut selanjutnya diteruskan oleh De Wolffvan Westerrode, seorang asisten residen Belanda. De Wolffvan Westerrode sewaktu cuti berhasil mengunjungi Jerman dan menganjurkan akan mengubah Bank Pertolongan Tabungan yang sudah ada menjadi Bank Pertolongan, Tabungan dan Pertanian. Selain pegawai negeri juga para petani perlu dibantu karena mereka makin menderita karena tekanan para pengijon.Ia juga menganjurkan mengubah Bank tersebut menjadi koperasi. Di samping itu ia pun mendirikan lumbung-lumbung desa yang menganjurkan para petani menyimpan pada pada musim panen dan memberikan pertolongan pinjaman padi pada musim paceklik. Ia pun berusaha menjadikan lumbung-lumbung itu menjadi Koperasi Kredit Padi.Tetapi Pemerintah Belanda pada waktu itu berpendirian lain. Bank Pertolongan, Tabungan dan Pertanian dan Lumbung Desa tidak dijadikan Koperasi tetapi Pemerintah Belanda membentuk lumbung-lumbung desa baru, bank –bank Desa , rumah gadai dan Centrale Kas yang kemudian menjadi Bank Rakyak Indonesia (BRI). Semua itu adalah badan usaha Pemerntah dan dipimpin oleh orang-orang Pemerintah.
Pada zaman Belanda pembentuk koperasi belum dapat terlaksana karena:
1. Belum ada instansi pemerintah ataupun badan non pemerintah yang memberikan penerangan dan penyuluhan tentang koperasi.
2. Belum ada Undang-Undang yang mengatur kehidupan koperasi.
3. Pemerintah jajahan sendiri masih ragu-ragu menganjurkan koperasi karena pertimbangan politik, khawatir koperasi itu akan digunakan oleh kaum politik untuk tujuan yang membahayakan pemerintah jajahan itu.
Pada tahun 1908, Budi Utomo yang didirikan oleh Dr. Sutomo memberikan peranan bagi gerakan koperasi untuk memperbaiki kehidupan rakyat. Pada tahun 1915 dibuat peraturan Verordening op de Cooperatieve Vereeniging, dan pada tahun 1927 Regeling Inlandschhe Cooperatieve.
Pada tahun 1927 dibentuk Serikat Dagang Islam, yang bertujuan untuk memperjuangkan kedudukan ekonomi pengusah-pengusaha pribumi. Kemudian pada tahun 1929, berdiri Partai Nasional Indonesia yang memperjuangkan penyebarluasan semangat koperasi.
Namun, pada tahun 1933 keluar UU yang mirip UU no. 431 sehingga mematikan usaha koperasi untuk yang kedua kalinya.Pada tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia. Jepang lalu mendirikan koperasi kumiyai. Awalnya koperasi ini berjalan mulus. Namun fungsinya berubah drastis dan menjadi alat Jepang untuk mengeruk keuntungan, dan menyengsarakan rakyat Indonesia.
Setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 12 Juli 1947, pergerakan koperasi di Indonesia mengadakan Kongres Koperasi yang pertama di Tasikmalaya.Hari ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia.

 Fungsi dan peran koperasi Indonesia

Menurut Undang-undang No. 25 tahun 1992 Pasal 4 dijelaskan bahwa koperasi memiliki fungsi dan peranan antara lain yaitu mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota dan masyarakat, berupaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia, memperkokoh perekonomian rakyat, mengembangkan perekonomian nasional, serta mengembangkan kreativitas dan jiwa berorganisasi bagi pelajar bangsa.